Ad image

Update Harga BBM Maret 2026 Menjelang Lebaran Ditengah Kondisi Eskalasi Timur Tengah

Salsa Amelia
4 Min Read

Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kembali mengalami penyesuaian pada awal Maret 2026. Sejumlah operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) seperti Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo Energy secara bersamaan menaikkan harga beberapa produk BBM non-subsidi.

Penyesuaian harga ini mulai berlaku sejak 1 Maret 2026 di berbagai wilayah Indonesia. Kenaikan tersebut mengikuti perubahan harga minyak dunia serta mekanisme formula harga energi yang digunakan pemerintah.

Akibatnya, sejumlah jenis BBM populer seperti Pertamax, Pertamax Turbo, hingga produk diesel mengalami kenaikan harga. Bahkan beberapa produk bahan bakar kini menembus kisaran Rp14 ribu per liter.

Daftar Harga BBM Pertamina Maret 2026

Sebagai penyedia BBM terbesar di Indonesia, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga untuk berbagai produk non-subsidi.

Perusahaan menetapkan harga baru untuk beberapa jenis BBM yang banyak digunakan kendaraan pribadi dan sektor transportasi.

Berikut daftar harga BBM Pertamina per 1 Maret 2026:

  • Pertamax (RON 92): Rp12.300 per liter
  • Pertamax Green 95: Rp12.900 per liter
  • Pertamax Turbo (RON 98): Rp13.100 per liter
  • Dexlite (CN 51): Rp14.200 per liter
  • Pertamina Dex (CN 53): Rp14.500 per liter

Kenaikan harga ini terjadi setelah harga energi global mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Produk diesel bahkan mengalami kenaikan paling besar dibandingkan jenis bensin.

SPBU Swasta Juga Ikut Menyesuaikan Harga

Penyesuaian harga tidak hanya terjadi di SPBU milik Pertamina. Perusahaan energi swasta seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo juga menaikkan harga produk BBM mereka.

Saat ini, harga bensin non-subsidi di SPBU swasta berada di kisaran Rp12.390 hingga Rp12.930 per liter, tergantung jenis bahan bakar dan wilayah penjualan. Sementara itu, harga diesel di beberapa SPBU bahkan mencapai sekitar Rp14.600 per liter.

Perusahaan energi biasanya menyesuaikan harga BBM setiap awal bulan. Mereka mempertimbangkan beberapa faktor seperti harga minyak mentah dunia, biaya distribusi, dan nilai tukar mata uang.

BBM Subsidi Masih Dipertahankan

Di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi, pemerintah masih mempertahankan harga BBM subsidi.

Dua jenis BBM yang paling banyak digunakan masyarakat tetap memiliki harga yang sama seperti sebelumnya:

  • Pertalite: Rp10.000 per liter
  • Solar subsidi (Biosolar): Rp6.800 per liter

Pemerintah mempertahankan harga tersebut untuk menjaga daya beli masyarakat serta menahan dampak kenaikan biaya transportasi.

Bahkan pemerintah menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik hingga periode Lebaran 2026, meskipun harga minyak dunia mengalami tekanan akibat konflik geopolitik. (Aceh Antara News)

Eskalasi Konflik Timur Tengah Bisa Dorong Harga Energi

Selain faktor ekonomi, perkembangan geopolitik global juga memengaruhi harga energi. Dalam beberapa minggu terakhir, ketegangan di Timur Tengah meningkat akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Konflik tersebut mulai memengaruhi pasar energi global. Serangan terhadap fasilitas minyak serta gangguan jalur pelayaran energi membuat pasokan minyak dunia menjadi tidak stabil. (Reuters)

Bahkan beberapa analis memperkirakan harga minyak mentah dunia dapat menembus US$100 per barel jika konflik berlangsung lebih lama. (kontan.co.id)

Kawasan Timur Tengah memiliki peran sangat penting dalam pasar energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Jika jalur ini terganggu, pasokan minyak global dapat langsung terdampak. (Wikipedia)

Dampak Potensial bagi Harga BBM Indonesia

Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan produk BBM. Oleh karena itu, perubahan harga energi global dapat langsung memengaruhi biaya impor energi nasional.

Jika harga minyak dunia terus meningkat, perusahaan energi di Indonesia kemungkinan akan menyesuaikan harga BBM non-subsidi pada periode berikutnya.

Namun pemerintah tetap memiliki beberapa opsi untuk menahan kenaikan harga, seperti pengaturan subsidi atau stabilisasi harga energi domestik.

Karena itu, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga BBM dalam beberapa bulan ke depan.

 

Share This Article