CarbuOtomotif menyoroti perubahan besar dalam peta persaingan mobil Indonesia setelah data Januari hingga Agustus 2026 menunjukkan penjualan Honda mengalami penurunan tajam. Penjualan retail Honda mencapai 31.671 unit, turun sekitar 36 persen dari 49.513 unit pada periode yang sama tahun lalu.. Pada saat yang sama, BYD dan Jaecoo tumbuh agresif dan mulai mengambil posisi yang selama bertahun-tahun identik dengan merek Jepang.
Honda Turun di Dua Jalur Penjualan
Penurunan Honda tidak hanya terlihat pada unit yang sampai ke tangan konsumen. Distribusi wholesales dari pabrik menuju dealer juga melemah.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, Honda membukukan wholesales 26.437 unit. Setahun sebelumnya, angka pada periode yang sama mencapai 42.291 unit. Artinya, distribusi turun sekitar 37,5 persen.
Retail sales juga bergerak ke arah serupa dengan kontraksi sekitar 36 persen.
Kondisi tersebut membuat Honda menjadi salah satu merek Jepang yang paling jelas merasakan perubahan pola persaingan tahun ini.
Menariknya, penurunan Honda terjadi ketika pasar nasional justru menunjukkan tanda pertumbuhan.
Pasar Nasional Sedang Tumbuh
Wholesales mobil Indonesia pada Agustus mencapai 81.756 unit. Jumlah tersebut naik sekitar 0,8 persen dibandingkan Juli yang mencatat 81.115 unit.
Retail sales bahkan bergerak lebih kuat. Penjualan kepada konsumen mencapai lebih dari 83 ribu unit dan meningkat sekitar 7,7 persen secara bulanan.
Artinya, tekanan terhadap Honda tidak sepenuhnya bisa dijelaskan melalui pelemahan pasar secara umum.
Konsumen masih membeli mobil baru, tetapi pilihan mereka semakin tersebar ke lebih banyak merek dan teknologi.
Daftar data penjualan Agustus memperlihatkan Toyota tetap memimpin dengan 20.357 unit wholesales, disusul Daihatsu 13.214 unit. Kejutan muncul pada posisi ketiga karena BYD mencapai 7.870 unit.
Honda berada di posisi kedelapan secara wholesales pada bulan tersebut dengan 3.177 unit.
BYD Naik Hampir Dua Kali Lipat
Pertumbuhan BYD menjadi salah satu perubahan paling mencolok.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, BYD membukukan wholesales 37.696 unit atau tumbuh sekitar 98,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Retail sales BYD mencapai 35.289 unit, meningkat sekitar 83,1 persen.
Perusahaan juga menyebut penjualan kendaraan elektrifikasinya sudah melewati 40.700 unit hingga Agustus dan menguasai sekitar 37 persen segmen kendaraan listrik Indonesia.
Kehadiran produk di beberapa segmen membuat BYD tidak lagi sekadar bersaing di pasar EV kecil. Modelnya mulai berhadapan langsung dengan mobil bensin populer.
Atto 1 Jadi Mobil Terlaris
Pergeseran tersebut terlihat semakin jelas ketika melihat penjualan berdasarkan model.
BYD Atto 1 mencatat distribusi sekitar 5.538 unit pada Agustus dan menempati posisi teratas daftar mobil terlaris nasional.
Posisi kedua ditempati Daihatsu Gran Max Pick Up dengan 4.346 unit, disusul Kijang Innova 3.504 unit dan Toyota Avanza 3.442 unit.
Honda Brio, yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung Honda, mencatat sekitar 1.670 unit dan berada jauh di bawah Atto 1.
Perubahan tersebut penting karena mobil listrik kini tidak lagi hanya mendapat perhatian karena teknologi. Volume penjualannya sudah mampu melampaui model bensin yang memiliki sejarah panjang.
Jaecoo Ikut Memberi Tekanan
BYD bukan satu-satunya merek China yang naik.
Jaecoo mencatat sekitar 23.834 unit wholesales sepanjang Januari–Agustus 2026. Angka tersebut melonjak sangat besar dibandingkan hanya 438 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan retail juga tumbuh hingga sekitar 23.486 unit.
Jaecoo J5 menjadi motor utama pertumbuhan tersebut. Pada Agustus saja, J5 membukukan 3.214 unit dan menempati posisi keenam daftar mobil terlaris.
Artinya, dalam satu bulan, satu model Jaecoo mampu mendekati total wholesales seluruh merek Honda yang mencapai 3.177 unit.
Konsumen Mendapat Lebih Banyak Pilihan
Tekanan yang dihadapi merek Jepang tidak hanya berasal dari harga.
Produsen China menawarkan paket yang menggabungkan teknologi elektrifikasi, layar besar, fitur bantuan berkendara, desain baru, dan harga yang kompetitif.
Konsumen akhirnya mempunyai lebih banyak pembanding sebelum membeli kendaraan.
Jaringan layanan purnajual tetap menjadi keunggulan merek Jepang, termasuk Honda. Namun faktor tersebut sekarang harus berhadapan dengan kecepatan pemain baru memperluas dealer dan menawarkan garansi panjang.
Persaingan juga berubah karena mobil listrik mendapatkan penerimaan yang lebih besar. Populasi kendaraan listrik nasional telah menembus lebih dari 541 ribu unit hingga Agustus 2026.
Honda Belum Diam
Honda sendiri sudah mulai memperkuat lini elektrifikasinya.
Unit Honda Super-ONE menjadi salah satu contoh. Seluruh alokasi awal sebanyak 100 unit untuk Indonesia pada 2026 habis dipesan hanya satu hari setelah pemesanan resmi dibuka. Booking bahkan mencapai 132 unit.
Respons tersebut menunjukkan merek Honda masih memiliki basis konsumen kuat.
Namun keberhasilan satu model belum otomatis mengembalikan volume penjualan keseluruhan. Honda tetap perlu memperkuat produk pada segmen yang memberi volume besar sekaligus menyesuaikan strategi harga dengan persaingan baru.
Peta Lama Mulai Berubah
Pasar otomotif Indonesia selama bertahun-tahun mempunyai struktur relatif stabil dengan merek Jepang menguasai posisi atas.
Agustus 2026 memberi gambaran berbeda. Toyota dan Daihatsu masih kokoh, tetapi BYD sudah berada di posisi ketiga, sementara Jaecoo mampu masuk tujuh besar wholesales bulanan.
Honda tetap memiliki nama besar, jaringan luas, dan produk populer. Namun data terbaru menunjukkan kekuatan merek saja tidak lagi cukup untuk mempertahankan posisi.
Konsumen sekarang lebih terbuka terhadap teknologi dan merek baru. Mobil listrik juga mulai dianggap sebagai pilihan utama, bukan sekadar kendaraan alternatif.
Karena itu, penurunan Honda sebesar 36 persen bukan hanya cerita tentang satu produsen. Angka tersebut menjadi tanda bahwa persaingan otomotif Indonesia memasuki fase baru.
Merek Jepang masih mempunyai keunggulan besar, tetapi pemain China sudah menunjukkan bahwa mereka mampu mengejar volume dengan sangat cepat. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa cepat Honda dan pemain lama lain dapat menyesuaikan produk, harga, serta teknologi sebelum perubahan peta pasar menjadi semakin permanen.

