SUV PHEV Boxy Baru Masuk Indonesia dengan Harga Rp688 Juta
carbuotomotif – JETOUR T2 i-DM menjadi salah satu SUV baru yang menarik perhatian setelah resmi hadir di pasar Indonesia. Model ini diperkenalkan dalam ajang GIIAS 2026 dengan harga Rp688 juta on the road Jakarta, sekaligus menjadi versi elektrifikasi dari keluarga T2 yang sebelumnya sudah lebih dahulu hadir dengan mesin konvensional.
- JETOUR T2 i-DM Mengandalkan Mesin 1.5 Turbo dan Dua Motor Listrik
- Klaim Lebih dari 1.200 Km Jadi Senjata Utama
- Bukan Sekadar SUV Kota dengan Tampilan Off-Road
- Kabin JETOUR T2 i-DM Dipenuhi Teknologi
- Bisa Menjadi Sumber Listrik Saat Camping
- Keselamatan T2 i-DM Tidak Hanya Mengandalkan ADAS
- Harga Rp688 Juta Membuat Persaingan Semakin Menarik
- JETOUR T2 i-DM Cocok untuk Siapa?
Namun, daya tarik T2 i-DM bukan hanya muncul dari desainnya yang serba kotak atau gaya adventure yang terlihat kuat. JETOUR menawarkan satu angka yang langsung mencuri perhatian: jarak tempuh lebih dari 1.200 kilometer ketika baterai dan tangki bahan bakar berada dalam kondisi penuh.
Angka tersebut membuat T2 i-DM menarik untuk dibahas lebih jauh. Mobil ini tidak mencoba menjadi SUV listrik murni. JETOUR justru menggunakan sistem plug-in hybrid atau PHEV untuk menggabungkan motor listrik dan mesin bensin.
Hasilnya, pemilik tetap dapat menikmati karakter berkendara elektrifikasi untuk penggunaan sehari-hari tanpa terlalu mengkhawatirkan ketersediaan stasiun pengisian daya ketika ingin melakukan perjalanan jauh.
JETOUR T2 i-DM Mengandalkan Mesin 1.5 Turbo dan Dua Motor Listrik

Sistem penggerak menjadi salah satu bagian paling menarik dari JETOUR T2 i-DM.
Mobil ini menggunakan mesin ACTECO 1.5 TGDI Hybrid Dedicated Engine generasi kelima yang bekerja bersama baterai CATL LFP berkapasitas 18,4 kWh.
JETOUR kemudian memadukannya dengan 3-Speed Dedicated Hybrid Transmission atau 3DHT dan dua motor listrik. Kombinasi tersebut menghasilkan tenaga gabungan 224 PS serta torsi 390 Nm.
Konfigurasi tersebut berbeda dari hybrid konvensional yang biasanya hanya menggunakan baterai berkapasitas kecil.
Sebagai PHEV, T2 i-DM memungkinkan pengguna memanfaatkan energi listrik dalam porsi yang lebih besar. Baterai juga dapat memperoleh energi dari sumber eksternal.
JETOUR menyebut sistem tersebut sebagai Intelligent Dual Mode atau i-DM.
Teknologi itu mengatur kerja mesin dan motor listrik sehingga keduanya dapat menyesuaikan kebutuhan kendaraan secara otomatis. Tujuannya bukan hanya mengejar tenaga, tetapi juga menjaga keseimbangan antara performa, konsumsi energi, dan kenyamanan.
Pendekatan seperti ini cukup masuk akal untuk Indonesia.
Pengguna yang sebagian besar berkendara di kota bisa memanfaatkan motor listrik lebih sering. Ketika harus bepergian antarkota atau menuju daerah yang belum memiliki banyak fasilitas charging, mesin bensin tetap memberikan fleksibilitas.
Klaim Lebih dari 1.200 Km Jadi Senjata Utama
Jarak tempuh menjadi salah satu persoalan yang sering muncul ketika konsumen mempertimbangkan kendaraan elektrifikasi.
JETOUR mencoba menjawab kekhawatiran tersebut dengan menawarkan klaim lebih dari 1.200 kilometer untuk T2 i-DM ketika baterai terisi dan bahan bakar tersedia penuh.
Inilah salah satu keuntungan utama pendekatan PHEV.
Pemilik tidak sepenuhnya bergantung pada baterai seperti pengguna battery electric vehicle atau BEV. Ketika daya baterai menurun, kendaraan masih dapat menggunakan sistem berbasis mesin bensin.
Namun, angka 1.200 km tersebut tetap perlu dipahami sebagai klaim jarak tempuh kombinasi berdasarkan kondisi pengujian, bukan jaminan bahwa setiap pemilik pasti mendapatkan angka yang sama.
Hasil penggunaan nyata bisa berubah karena banyak faktor.
Kecepatan kendaraan, kondisi lalu lintas, gaya mengemudi, penggunaan AC, beban penumpang, kontur jalan hingga seberapa sering pengguna melakukan pengisian baterai dapat memengaruhi konsumsi energi.
Meski begitu, kemampuan menempuh perjalanan panjang tetap menjadi keunggulan potensial bagi konsumen yang sering melakukan perjalanan keluar kota.
Bukan Sekadar SUV Kota dengan Tampilan Off-Road
JETOUR mempertahankan desain boxy pada T2 i-DM.
Karakter tersebut membuatnya terlihat berbeda dibanding banyak SUV crossover yang menggunakan garis bodi lebih membulat dan aerodinamis.
Tampilan berbentuk kotak juga memperkuat citra adventure.
Namun, pendekatan T2 i-DM sebenarnya menarik karena mobil ini tidak hanya diarahkan untuk konsumen yang menyukai perjalanan luar ruang.
JETOUR juga memosisikannya sebagai kendaraan untuk mobilitas sehari-hari.
Artinya, T2 i-DM mencoba menggabungkan dua karakter yang cukup berbeda: tampilan SUV adventure dan teknologi elektrifikasi yang lebih relevan untuk penggunaan perkotaan.
Strategi seperti ini bisa menjadi pembeda.
Pasar SUV Indonesia kini dipenuhi berbagai pilihan crossover. Konsumen tidak lagi hanya membandingkan mesin dan dimensi, tetapi juga desain, teknologi kabin, sistem keselamatan, serta jenis elektrifikasinya.
JETOUR mencoba masuk melalui kombinasi tersebut.
Kabin JETOUR T2 i-DM Dipenuhi Teknologi
Bagian interior juga mendapatkan perhatian cukup besar.
JETOUR memasang layar infotainment 15,6 inci yang menggunakan platform Qualcomm Snapdragon 8155. Di depan pengemudi terdapat panel instrumen digital berukuran 10,25 inci.
Sistem tersebut mendukung Wireless Apple CarPlay dan Android Auto, sehingga pengguna tidak harus menghubungkan smartphone dengan kabel setiap kali masuk ke mobil.
T2 i-DM juga memiliki voice control empat zona.
Fitur tersebut memungkinkan sistem mengenali perintah berdasarkan posisi penumpang di dalam kabin.
Untuk audio, JETOUR menggunakan sistem Sony dengan 12 speaker.
Sementara itu, panoramic sunroof memberikan kesan kabin lebih terbuka, terutama ketika mobil digunakan dalam perjalanan luar kota.
Situs resmi JETOUR Indonesia juga mencantumkan sejumlah fitur utama seperti panoramic skyroof, Snapdragon 8155, sistem kamera surround, hingga kemampuan V2L.
Bisa Menjadi Sumber Listrik Saat Camping
Salah satu fitur yang relevan dengan karakter adventure T2 i-DM adalah Vehicle-to-Load atau V2L.
Sistem ini mampu mengeluarkan daya hingga 3,3 kW, sehingga energi dari baterai kendaraan dapat digunakan untuk menyalakan perangkat elektronik eksternal.
Fitur tersebut cukup menarik untuk pengguna yang sering melakukan kegiatan outdoor.
Pemilik dapat menggunakan mobil sebagai sumber listrik untuk sejumlah perangkat ketika camping atau berada di lokasi yang jauh dari jaringan listrik.
Keberadaan V2L membuat baterai kendaraan tidak hanya berfungsi untuk menggerakkan motor listrik.
Dalam konteks SUV adventure, fitur seperti ini bahkan bisa memberikan manfaat yang lebih nyata dibanding sekadar gimmick teknologi di kabin.
Keselamatan T2 i-DM Tidak Hanya Mengandalkan ADAS
JETOUR juga memberikan perhatian pada struktur kendaraan dan perlindungan baterai.
T2 i-DM menggunakan struktur Hardtop Cage Body Monocoque dengan sekitar 80 persen high-strength steel. JETOUR mencatat torsional stiffness mencapai 32.000 Nm/deg.
Baterai LFP dari CATL memiliki sertifikasi IP68.
Menurut informasi saat peluncuran, baterai dirancang mampu bertahan ketika terendam hingga kedalaman satu meter selama 48 jam. Mobil juga memiliki sistem High Voltage Cut-Off yang dapat memutus aliran listrik dalam kondisi darurat.
Dari sisi bantuan berkendara, T2 i-DM menggunakan radar dan kamera Bosch serta menawarkan 15 fungsi ADAS Level 2.
Enam airbag ikut melengkapi perlindungan penumpang.
Kombinasi sistem aktif dan struktur pasif tersebut penting karena konsumen kendaraan elektrifikasi kini tidak hanya mempertimbangkan performa baterai.
Keamanan sistem tegangan tinggi juga menjadi bagian dari pertimbangan pembelian.
Harga Rp688 Juta Membuat Persaingan Semakin Menarik
JETOUR membanderol T2 i-DM mulai Rp688 juta OTR Jakarta. Harga tersebut juga tercantum dalam kanal resmi JETOUR Indonesia.
Angka hampir Rp700 juta tentu menempatkannya pada segmen yang cukup kompetitif.
Calon konsumen di rentang harga tersebut memiliki banyak pilihan SUV dari berbagai merek, termasuk produk bermesin bensin, hybrid, PHEV hingga listrik murni.
Karena itu, T2 i-DM tidak bisa hanya mengandalkan harga.
Nilai jual utamanya justru datang dari kombinasi desain boxy, teknologi PHEV, kabin modern, fitur keselamatan, serta fleksibilitas perjalanan jauh.
JETOUR juga memberikan garansi kendaraan dan mesin selama enam tahun tanpa batas kilometer. Untuk power battery dan drive system, perusahaan memberikan garansi delapan tahun atau 160.000 km.
Jaminan tersebut cukup penting bagi merek yang masih tergolong baru di mata sebagian konsumen Indonesia.
JETOUR T2 i-DM Cocok untuk Siapa?
T2 i-DM memiliki posisi yang cukup spesifik.
Mobil ini akan lebih menarik bagi konsumen yang menginginkan SUV berpenampilan tangguh tetapi tidak ingin sepenuhnya bergantung pada mesin bensin.
PHEV juga bisa menjadi jalan tengah bagi pengguna yang tertarik dengan mobil listrik tetapi masih sering melakukan perjalanan jauh.
Pengguna dapat mengisi baterai saat berada di rumah atau lokasi charging, memanfaatkan motor listrik untuk aktivitas tertentu, tetapi tetap membawa mesin bensin sebagai pendukung ketika perjalanan semakin panjang.
Karakter tersebut membuat JETOUR T2 i-DM berbeda dari SUV hybrid biasa maupun BEV murni.
Klaim jarak tempuh lebih dari 1.200 km menjadi daya tarik besar, tetapi alasan memilih mobil ini seharusnya tidak berhenti pada satu angka tersebut.
Mesin 1.5 turbo, dua motor listrik, baterai CATL LFP, output 224 PS, torsi 390 Nm, sistem ADAS, V2L hingga kabin dengan layar besar membentuk paket yang lebih lengkap.
Di tengah semakin ramainya SUV elektrifikasi di Indonesia pada 2026, T2 i-DM menawarkan pendekatan yang cukup jelas: tampilan adventure tanpa mengorbankan fleksibilitas perjalanan jauh.
Apakah paket tersebut cukup untuk membuat konsumen mengeluarkan Rp688 juta akan sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing.
Namun, satu hal jelas: masuknya T2 i-DM membuat persaingan SUV PHEV Indonesia semakin menarik dan memberikan pilihan baru bagi konsumen yang belum siap berpindah sepenuhnya ke mobil listrik.

